Notification

×

Iklan

Iklan

 


Berpulangnya Sang "Panglima" Rakyat: Jejak Pengabdian Syahrul Syamaun dari Hutan hingga Kursi Wakil Bupati

Sabtu, 02 Mei 2026 | Mei 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-02T11:27:41Z
Syahrul Bin Syamaun Kanan

ACEH TIMUR – Kabar duka menyelimuti Bumi Idi Rayeuk. Mantan Wakil Bupati Aceh Timur dua periode (2012–2022), Syahrul Syamaun, atau yang akrab disapa Linud, telah mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya bukan sekadar hilangnya seorang pejabat publik, melainkan berpulangnya saksi sejarah panjang dinamika Aceh.


Dari Garis Depan Gerilya

Kisah hidup Syahrul Syamaun adalah potret nyata perjalanan panjang perdamaian Aceh. Di masa konflik, sosoknya dikenal sebagai salah satu petinggi dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peureulak.


Ia adalah pribadi yang kenyang dengan asam garam kehidupan di dalam hutan, memimpin pasukan di bawah rimbunnya belantara demi apa yang saat itu ia perjuangkan. Kedisiplinan dan loyalitas yang ditempa di masa-masa sulit itulah yang kemudian membentuk karakter kepemimpinannya di masa damai.


Menenun Damai Melalui Birokrasi

Pasca-MoU Helsinki, Syahrul memilih jalan diplomasi dan pembangunan. Bersama H. Hasballah Bin M. Thaib (Rocky), ia memimpin Aceh Timur selama satu dekade penuh. Transisinya dari seorang gerilyawan menjadi birokrat ulung adalah pembuktian bahwa "pedang" bisa benar-benar ditempa menjadi "mata bajak" demi kemakmuran rakyat.


Selama menjabat sebagai Wakil Bupati, ia dikenal sebagai sosok yang:


Tegas namun Dekat: Tidak segan turun langsung ke lapangan untuk memastikan program pembangunan berjalan.


Penjaga Stabilitas: Menjadi jembatan komunikasi antara eks-kombatan dan masyarakat umum.


Sederhana: Meski menduduki posisi nomor dua di kabupaten, ia tetap mempertahankan gaya bicara yang blak-blakan dan apa adanya, ciri khas pejuang yang jujur.


Warisan Pengabdian

Sepuluh tahun mendampingi pembangunan di Aceh Timur bukanlah waktu yang singkat. Mulai dari pemindahan pusat ibu kota ke Idi hingga pembenahan infrastruktur di pelosok desa, jejak tangan dinginnya tertanam kuat di sana.


"Beliau adalah sosok yang memegang teguh janji. Baginya, politik adalah cara untuk memastikan rakyat yang dulu ia bela di masa perang, bisa makan dengan kenyang di masa damai," kenang salah seorang kerabat dekatnya.


Kini, langkah kaki Sang Panglima telah terhenti. Namun, kisah perjalanannya—dari suara kokang senjata di tengah hutan hingga ketukan palu sidang di gedung dewan—akan tetap abadi dalam ingatan masyarakat Aceh Timur.


Selamat jalan, Pak Syahrul Syamaun. Dedikasimu adalah bagian dari sejarah yang takkan terhapus waktu.

×
Berita Terbaru Update