Peringati Haul Tgk Muhammad Hasan di Tiro, KPA Peureulak Gelar Tahlilan di Kediaman Bang Din Kapla Eks Libya
PEUREULAK – Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Peureulak menggelar doa bersama dan tahlilan dalam rangka memperingati Haul (hari wafat) Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Almarhum Dr. Tgk. Muhammad Hasan di Tiro, LL.D, PhD. Kegiatan khidmat ini berlangsung di kediaman Saifuddin alias Bang Din Kapla, seorang tokoh eks kombatan Libya, di Peureulak, Aceh Timur.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran KPA Wilayah Peureulak, para mantan kombatan, tokoh masyarakat, serta simpatisan yang datang untuk mengenang jasa dan perjuangan sang ideolog Aceh.
Koordinator Acara, Mawardi yang akrab disapa Zebra, menyampaikan bahwa peringatan haul ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk merawat ingatan sejarah dan memperkuat tali silaturahmi antar-sesama eks kombatan dan masyarakat.
"Haul Tgk Muhammad Hasan di Tiro adalah momen sakral bagi kami. Kegiatan tahlilan dan doa bersama ini kami laksanakan untuk mengirimkan doa kepada almarhum, sekaligus menjadi wadah mempererat kembali ukhuwah di antara garis perjuangan KPA Peureulak. Kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan kekompakan yang diajarkan almarhum tetap hidup di hati kami semua," ujar Zebra di sela-sela acara.
Sementara itu, Bang Tar, tokoh eks kombatan Libya yang bertindak sebagai Pengarah Acara, menekankan pentingnya merefleksikan kembali pemikiran dan konsistensi almarhum Hasan di Tiro dalam konteks perdamaian Aceh saat ini.
"Sosok Wali (Hasan di Tiro) adalah simbol konsistensi dan perjuangan martabat. Melalui peringatan haul di kediaman sahabat kami, Bang Din Kapla, kita ingin mengingatkan generasi muda dan seluruh jajaran KPA bahwa perjuangan hari ini telah beralih ke ranah politik dan pembangunan Aceh yang bermartabat sesuai MoU Helsinki. Kita harus mengawal perdamaian ini dengan kepala tegak, menjaga persatuan, dan tidak melupakan sejarah dari mana kita berasal," tegas Bang Tar.
Acara yang berlangsung dengan penuh khidmat tersebut ditutup dengan santunan kepada anak yatim serta makan bersama sebagai wujud rasa syukur dan kepedulian sosial yang selama ini menjadi bagian dari kultur masyarakat Aceh.





Posting Komentar